Sunday, January 27, 2013

Balada Hujan Lebat

Jadi ceritanya, kemarin, tanggal 26 Januari 2013, seorang gadis kecil yang cantik nan rupawan meskipun sudah berumur 17 tahun sedang bersiap-siap untuk berangkat les. Yakni diriku *cuih* *ngeludah mutiara*

Karena awalnya mama sama adik mau ke Grand City yang bisa dibilang jaraknya dekat banget dan searah ke tempat les ku, akhirnya papa nganterin aku les sekalian barengan nganterin adikku sama mama. Waktu aku masuk ke mobil, hawa panas langsung menyerbu.

Buset.... Ini mobil apa microwave? Benar-benar rasanya terpanggang dibandingkan dengan hawa di luar mobil, meskipun sinar mataharinya emang nyengat banget. "Ini sih, namanya oven berjalan!" kata mama.

Akhirnya aku sampai ke tempat les dan buru-buru masuk karena hawa di luar benar-benar berasa seperti neraka bocor dan tumpah ke Surabaya.

Dari awal, Ihda, temen les ku ngajak aku dan anak-anak kelas kami buat makan di Aiola, tempat kongkow dari anak sekolah komplek sampai yang sekolahnya di deket jembatan suramadu, dari tua sampai yang muda. Aku langsung pesen aja es pisang ijo yang emang salah satu minuman favoritku di situ. Sebenarnya aku sadar di hawa panas gini minum es emang benar-benar surga tapi ngundang penyakit, yakni alergi dingin. Bodo ah, jangan sampe sebelum sampai tempat les yang tinggal jalan kaki dari Aiola, aku mendadak dehidrasi dan menjadi kering kerontang di tengah jalan.

Terus, apa hubungannya sama Balada Hujan Lebat? Ya cerita ini dimulai saat istirahat di tengah-tengah les, aku, Riri, sama Intan gak ikut anak-anak lain jajan di MZ, tempat jajan dan café di sebelah Aiola.
Kita bertiga mengutamakan sholat terlebih dahulu *tsaaaaaahh . Bisa aja sih, setelah kita sholat kita nyusul anak-anak jajan, tapi biasanya kita nunggu di dalem kelas sambil nunggu mereka balik.

Tidak ada yang tahu ternyata keputusan kami tinggal di kelas ini menjadikan kami sebagai superhero.

Setelah ada 2 anak lain dari kelas kami yang masuk, total anak di kelas pada saat itu 6. Sedangkan 8 anak lainnya masih jajan. Dan.....


Tukk..tukk.tuk.... DAKKKK DAKKK DAKKKKKK.... BRUUUUUSSSSSS....

Hujan deres gak pakai spasi langsung nyiram daerah tempat les kita dan mungkin daerah lain di Surabaya. Belum lagi pakai angin yang bikin berasa diterpa badai.

Aku sama Riri langsung sontak teriak bersamaan dan melotot horor, "Anak-anak gimana?" "Pentolku gimana?" Sumpih ya Riri ini masih sempet aja mikirin pentol.

"Mana si Ihda gak bawa hape lagi," kata Riri.
"Eh, sumpah? Gaby?"
"Gaby juga."

Tidak lama kemudian, Riri dapet sms dari Grace, temen les kami juga.

"Kata Grace, 'Heee, yaapa iki'"

"Yah kasian ya," aku menggumam. Sebenarnya pikiranku lebih terfokus sama dompetku yang aku titipkan di Gaby hehe......
 

Karena aku kepikiran terus, tahu-tahu aku ngomong ke Riri, "Ri, ya apa kalo kita jemput mereka?"

"Pake apaan?"
"Pake payung. Mungkin GO (tempat les kita) punya..."
"Yawes, saiki ta?"
"Ntar aja gimana? sekarang jam berapa sih?"
"Jam empat kurang"
"Yaudah, kalo mereka belum balik, jam empat kita jemput ya"

Tentor kami masuk dan kaget karena banyak tas dan buku kececeran namun si empunya gak ada.

"Loh, pada kemana semua ini?" tanya mbak Luli, tentor kita.
"Masih kejebak hujan mbak..."
"Oh, ya sudah ini materinya mau ta tulis dulu apa diterangin?"
"Tulis dulu aja mbak, banyak anak-anak belum balik."

Setelah jam empat lewat, "Ri, sekarang tah? apa nunggu 5 menit lagi?" "5 menit lagi aja deh."

Setelah 7 menit lewat, "Wes sa, ayo berangkat sekarang aja ya."

Akhirnya kami pamitan sama mbak Luli dan langsung kedepan. Untung GO  punya beberapa payung. Kita minta 2 payung ke satpamnya.

Sebelum pergi, pak satpam ngingetin aku, "Itu sepatunya gak dicopot aja tah? Eman, sepatu kain"

Aku cuma ngeliatin sneakers ku , melihat sekilas jalanan di depan, lalu menggeleng "Gak usah pak. Keliatannya gak banjir."

Dengan modal nekat, kita menembus hujan angin yang sebenarnya payung gak menjamin kita bakalan tetap 'kering'.

Dari GO, kita cukup berjalan di trotoar miring sebelah kiri lalu menyebrang, begitu melihat jalan raya, aku bisa menyimpulkan bahwa tinggi airnya semata kaki. Dengan terpaksa aku lepas sneakers ku. Kami juga menyisingkan celana panjang dan sejenak aku merasakan kalau ini gak ada apa-apanya dibanding apa yang terjadi di Jakarta barusan.

Saat kami mau menyebrang, kami beberapa kali melompat mundur kebelakang karena beberapa pengendara motor dan mobil yang EGOIS tidak memberi kami jalan, bahkan memelankan laju saja enggak sehingga meskipun kami  sudah melompat mundur, kami masih sedikit terciprat air karena momentum yang mereka ciptakan. Dalam hati aku mengumpat, walau yang keluar di mulutku sama Riri perpaduan teriakan kaget dan sedikit tawa.

Alhamdulillah, kami berhasil menyebrang, sambil melihat senyum penuh syukur terukir di wajah Gaby dan Ihda. Dalam gerakan slow motion, yang berputar di kepalaku adalah lagu Hero dari Mariah Carey  ....

And then a (two) hero(es) comes along
With the strength
(umbrellas) to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
(cross the street)
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you'll finally see the truth
That a hero lies in you


*dengan sedikit perubahan, mencocokkan dengan keadaan


Aku langsung mayungi Gaby, sedangkan Riri mayungi Ihda. Kami sama-sama tertawa histeris, entah kenapa.

Setelah sampai, satpam tadi menggoda "Loh, akhirnya dicopot sepatunya. Aku bilang apa. Sepatunya sudah basah baru dicopot."

Aku cuma tersenyum kecut.

Aku menyerahkan payungku ke Gaby, karena aku ingin mengeringkan sepatuku di kelas. Akhirnya tinggal Gaby dan Riri yang menerobos hujan lagi menjemput Grace sama Kadek.

Cerita ini berakhir dengan Ihda yang pusing dan Sasha yang harus menguras ingus setelah pulang les.

Gros bisous xx


No comments:

Post a Comment